Pondok pesantren Mambaul Huda adalah salah satu dari 300-an pesantren yang terdapat di Kabupaten Magelang. Lokasi persis pondok ini berada di daerah Kaliabu Utara, Desa Kaliabu, Kecamatan Salaman, Magelang, Jawa Tengah.
Kini YAYASAN MAMBA'UL HUDA mendirikan Asrama Mamba'ul Huda II , masih satu desa di kaliabu tepatnya di dusun Demangan Barat
Kini YAYASAN MAMBA'UL HUDA mendirikan Asrama Mamba'ul Huda II , masih satu desa di kaliabu tepatnya di dusun Demangan Barat
Adalah seorang alim bernama al-maghfurlah KH. Muchsonuddin yang merintis lembaga pendidikan ini sejak tahun 1954 silam setelah berkelana nyantri di sejumlah pondok dan kiai baik di Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Beliau dikenal sebagai sosok yang cerdas dan sederhana. Gemar tabarukkan kepada alim-ulama semasa nyantri yang dilakoninya dengan mengikuti pengajian kilatan atau khataman kitab di beberapa pondok seperti Kencong Kediri. Selain ngalap berkah dengan sinau pada kyai tertentu, ketika khatam kitabnya biasanya sang kyai lantas juga memberikan ‘ijazah sanad’. ’Ijazah Sanad’ dikenal juga dengan istilah silsilah/rantai transmisi keilmuan dari gurunya, lalu gurunya lagi dan terus hingga rantai terakhir pada si muallif kitab tersebut.
Pada masa awal berdirinya, proses kegiatan belajar mengajar berpusat di sebuah mushola yang amat sederhana. Di tempat itulah mula-mula KH Muchsonuddin membimbing dan mendidik para santri yang pada waktu itu mayoritas berasal dari lingkungan masyarakat sekitar pondok. Itulah mengapa pada waktu awal-awal belum terdapat asrama bagi para santri untuk bermukim. Selepas pengajian mereka lantas pulang ke rumah masing-masing. Dalam tradisi kepesantrenan di pulau Jawa istilah santri model pulang pergi atau non-mukim dikenal juga dengan istilah ‘santri kalong’. Barulah kemudian lambat-laun seiring waktu mulai berdatangan para santri dari berbagai daerah untuk mengenyam di pondok sehingga kemudian dibangunlah asrama pemondokan bagi santri mukim tersebut.
Hadirnya pesantren ini tak lepas dari upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitarnya yang haus akan pendidikan agama. Oleh karenanya, ketika mereka hendak mengaji di pesantren ini mereka belajar tentang pasholatan (tata cara untuk menunaikan ibadah shalat). Tata cara menunaikan shalat menjadi materi tes masuk untuk belajar agama di pesantren ini. Sementara kegiatan Madrasah berlangsung di malam hari sementara aktivitas mengaji dilakukan ba’da Shubuh dan ba’da Ashar. Selain itu, ada juga pengajian khusus pengurus.
Dalam dokumen resmi Yayasan Mambaul Huda yang menaungi berbagai lembaga pendidikan formal dan non-formal, tercatat bahwa tahun resmi berdirinya pondok ini adalah tahun 1959. Berkat kegigihan dan perjuangan tak kenal lelah dari KH. Muchsonuddin pesantren ini terus berkembang dengan tersedianya lembaga pendidikan formal maupun non-formal dengan berbagai tingkatan. Tercatat di pondok sudah ada beberapa tingkat pendidikan mulai Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ada juga Asrama Mamba'ul Huda II. Selain pendidikan formal, Mambaul Huda juga menyelenggarakan pendidikan non-formal Madrasah Diniyah (Madin) dan pengkajian kitab kuning, baik dengan metode bandongan maupun sorogan. Fokus pemberdayaan di bidang pendidikan tidak hanya diperuntukkan bagi para santri saja, melainkan juga bagi masyarakat sekitar dengan adanya majlis taklim Muslimat dan Fatayat, dan juga Majlis Thariqah.
Visi pendidikan pesantren ini berupaya mengintegrasikan dengan baik proses pembinaan moralitas akhlaqul karimah yang dipadukan dengan ilmu pengetahuan dan ilmu-ilmu ke-Islaman. Selain berupaya mengintegrasikan antara keilmuan agama dan umum, Mambaul Huda juga berikhtiar untuk membantu dan mendorong pengembangan masyarakat, khususnya para remaja agar menjadi generasi yang memiliki akhlak mulia dan berbudi luhur serta memiliki pengetahuan luas tentang agama dan umum. Jumlah santri mukim pada saat ini mencapai 500-an santri meliputi putra-putri, belum terhitung para siswa-siswi non-santri mukim yang bersekolah di MTs dan SMK. Kini Pondok Pesantren Mambaul Huda diasuh oleh Kyai Muhammad Aminuddin, putra kelima KH Muhsonuddin yang telah wafat pada tahun 1995. Kini setiap harinya Kyai Muhammad Aminuddin Muhson diberi amanah oleh keluarga besar untuk mengasuh bagian pondok pesantrennya. Setiap harinya beliau mengimami shalat berjamaah, mengajar para santri dan juga membimbing para pengurus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar